Berita Terbaru

Menyambut Bulan Suci, Syahdu Ramadhan Dibalut Perjuangan Sebagai Mahasiswa Atau Pekerja di Tanah Rantau

Kluetrayanews.comBerpuasa adalah kewajiban bagi seorang muslim yang beriman atau orang yang beragama islam. Hanya orang-orang yang terpilih yang bisa menjalani dan meraih berkah pada bulan ramadhan. 

Belum tentu semua muslim mampu menjalankan puasa, hanya orang-orang yang beriman dan yakin yang bisa melaksanakannya. Berpuasa dan menjalankan ibadah ramdhan akan terasa nikmat jika bersama dengan keluarga, namun apa rasanya jika harus menjalani ramadhan di tanah orang atau di perantauan?

#Kenangan Ramadhanku Salam anak perantau.

Kamu tidak akan tahu artinya rindu sebelum kau merantau

Menjalani ramadhan di tanah rantau mungkin akan menemukan berbagai kendala, apalagi untuk anak kuliahan yang berasal dari daerah dan merantau ke kota metropolitan sebesar Banda Aceh, Medan, Jakarta dan Negara tetangga Malaysia. Mulai dari kecocokan makanan sampai tradisi ramadhan yang mungkin berbeda dengan kebiasaan kita di rumah.

Sebagai anak rantau, tentunya kita akan sangat senang dan bahagia jika bisa menjalani ramadhan dengan keluarga, namun apa daya ketika saat itu baru mengetahui jika dalam ramadhan tetap berkuliah atau bekerja di negeri orang dengan kata lain, harus beraktifitas sebagai mahasiswa atau pekerja buruh kasar seperti biasa yang berkutat dengan penatnya tugas kuliah dan panasnya matahari pas jadi buruh kasar, namun yang namanya kewajiban harus tetap dilaksanakan.

Menjalani puasa sambil berkuliah sebuah pengalaman yang terbilang tidak mudah dan butuh perjuangan. Homesick kadang kala datang menyerang namun harus tetap berjuang.

Walaupun hanya bersapa-ria via telpon namun terasa bahwa kita juga hadir di tengah keluarga untuk menikmati sajian buka puasa

Berpuasa untuk pertama kalinya di negeri orang memang susah, ketika harus melakukan sahur tanpa ada yang membangunkan, dan harus menyiapkan segala sesuatunya sendirian.

Masih teringat jelas suatu ketika saat pulang kuliah, harus berebut takjeel dan makanan lainnya demi memenuhi buka puasa karena pada saat itu kuliah selesainya menjelang magrib jadi otomatis makanan takjeel menjadi rebutan para mahasiswa perantau lainnya.

Begitu banyak suka-dukanya, masih ingat ketika suatu waktu berbuka puasa hanya dengan sepotong gorengan karena badan sudah lelah untuk mencari makanan. Momen yang membuat air mata menetes tatkala melakukan shalat tarawih ditemani teman sekostan, kemudian beli makan bareng buat persiapan sahur, bahkan mie instan sudah wajib tertata rapi di kamar sebagai persediaan makanan yang wajib dimiliki.

Masih teringat hari-hari sebagai mahasiswa yang setelah badan dan jiwanya terkuras di kelas masih berlanjut berjuang mendapatkan makanan berbuka puasa, menjelang lebaran pun nampaknya kesibukan ini hampir tidak pernah berakhir. 

Semuanya adalah pertama kali, dan begitu terasa asing di negeri orang. Sampai suatu malam sepertinya hati ini sudah tidak mampu menahan rindu tatkala mendengar takbir dikumandangkan di mesjid-mesjid, rasa-rasanya hari itu ingin langsung saja pulang ke rumah.

Kompromi juga sepertinya tidak terlalu berlaku di kampus ini, saya maklum beberapa kampus swasta di Jakarta memang masih melaksanakan perkuliahan hingga menjelang lebaran, dan karena negara ini negara demokrasi dan warga negaranya bukan hanya muslim saja jadi wajarlah jika aktifitas puasa tidak dijadikan penghalang untuk tetap beraktifitas.

Sempat iri juga dengan teman-teman lain, yang bisa melaksanakan ramadhan dengan keluarga sendiri di rumah. Kegembiraan datang tatkala jadwal untuk final keluar , namun harus kecewa lagi ketika jadwal itu sangat mempet adanya, kami libur H-5 lebaran, tetap bersyukur setidaknya bisa menikmati puasa untuk beberapa hari ke depan.

Tidak ada alasan untuk tidak menunaikan puasa selagi bisa, karena perjuangan sebenarnya adalah mampu konsisten di segala sesuatu tanpa terganggu dengan segala macam situasi

Ketika hari libur menjelang tiba, rasa-rasanya kegembiraan untuk bisa mudik itu tidak terbendung lagi, masih teringat jelas mata ini bahkan hampir tidak bisa terpejam tatkala membayangkan esok hari kita sudah berada di rumah bersama keluarga.

Membayangkannya saja sudah terasa menyenangkan sudah tidak perlu lagi berebut makanan, pas sahur ada ibu yang selalu membangunkan, benar-benar momen yang sangat ditunggu mahasiswa perantau.

Walaupun terasa sulit namun disitulah seninya merantau, harus menikmati rindu dan juga harus siap kehilangan momen berharga, salah satunya adalah momen berpuasa di bulan ramadhan bersama keluarga. 

#kenanganramadhanku

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menyambut Bulan Suci, Syahdu Ramadhan Dibalut Perjuangan Sebagai Mahasiswa Atau Pekerja di Tanah Rantau"