Monday, July 17, 2017

Jeritan Masyarakat Menggamat di Era Hasil Bumi Yang Melimpah

Kluetrayanews.com, KLUET TENGAH - Manggamat adalah pemukiman yang subur dengan hasil alamnya yang melimpah. Baik itu dari segi  pertanian maupun hasil buminya berupa emas, biji besi, batu bara dan kayu yang begitu hijau.

Namun tidak ada satupun pembangunan yang mampu mencerminkan bahwa menggamat adalah daerah yang kaya.
Sungai dicemari, gunung dikerok dan kayu di tebas, sampai akar rumputpun tidak ada peluang untuk hidup. Keluhan ini di kutip langsung dari laman facebook Adli, salah satu mahasiswa dari Kluet Tengah Senin (17/5/2017).

Baru-baru ini banyak media memberitakan tentang kehancuran menggamat akibat tambang. Dua bulan yang lalu Sejumlah pemuda dan mahasiswa Aceh Selatan yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Tambang (Gatot) Aceh Selatan menggelar aksi di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Selasa (30/5/2017).

Mereka meminta Pemkab Aceh Selatan mencabut izin pertambangan yang telah merusak alam daerah tersebut.   

Koordinator Lapangan Gatot, Adly Gunawan dalam orasinya menjelaskan bahwa kemukiman Menggamat di Aceh Selatan, sejak tahun 2009 hingga 2012 dikenal dengan wilayah petrodolarnya Aceh Selatan.

Karena terdapat beberapa perusahaan pertambangan yang mengekploitasi bahan mineral emas dan biji besi.

"Selama empat tahun PT Pinang sejati Utama (PSU) dan PT. Beri Mineral Utama(BMU) beroperasi, belasan hektar tanah gunung di Desa Simpang Tiga dan Desa Simpang Dua mengambil batu biji besi dan emas. 

Puluhan hektar hutan lindung dibabat yang mengakibatkan kerusakan lingkungan terparah dalam sejarah Aceh Selatan, sehingga wilayah itu dilanda banjir dan tanah longsor setiap kali diguyur hujan lebat," ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini terus bertambah parah dan mengancam masyarakat Aceh Selatan khususnya wilayah Manggamat yang merupakan sumber aliran sungai ke wilayah Aceh Selatan secara keseluruhan. 

"Selain itu kerusakan daerah aliran sungai Kluwat mengancam penduduk yang berada dibantaran sungai. Ada beberapa hal yang telah dilanggar oleh perusahaan tambang biji besi, emas dan kilang kayu yang saat masih beroperasi," tambahnya.

Adli juga menambahkan di era masa kejayaan manggamat tempo dulu, masyarakatnya terkenal dengan persatuan, solidaritas, kemakmuran dan adat istiadatnya. Lambat laun waktu terus berjalan, tahun terus berganti dan hal itu tak bisa di ulangi kembali seperti dulu '' ujarnya.

Saat ini dan tepatnya pada tahun 2009 lahirlah Persero Terbatas (PT) yang mendatangkan robot-robot berkapasitas muatan berat untuk meraub kekayaan alam di manggamat dan di fungsikan untuk kepentingan pribadi tanpa melihat kepentingan umum dan kesejahteraan di Manggamat.

Saat ini manggamat dihadapkan pada masalah yang besar. Sebelumnya masalah ini tak pernah terusik di telinga masarakat, Pengikisan bumi, pemotongan kayu selalu dilakukan oleh para-para artis yang mengganggap menggamat adalah sebuah panggung tempat mereke berjoget dan menyanyi bahkan sampai saat ini masih di buru-buru.

Kesolidaritasan dikalangan masyarakat mulai hilang sampai kita diperbudak oleh kehausan nafsu dengan tidak mengenal lagi kekeluargaan yang sudah lama terjalin dan pernah terlatih melawan ketika itu salah. Penindasan terhadap alam manggamat sangat jelas dilakukan oleh para aktor-aktor yang mempunyai kepentingan semata di manggamat itu dan kemudian setelah mereka kenyang mereka diam dan mulai berkiprah kelokasi yang lain setelah manggamat hanya tinggal ampas. 

Padahal selama ini kita hanya menerima mudarat yang tak henti-hentinya di datangi dan itupun bukan hanya satu kecamatan saja yang mersakan imbas bahkan se kluet RAYA juga ikut serta merasakan '' ujar Adli di akun facebook nya.

No comments:
Write komentar